Guru SMP Negeri 2 Demak, Peserta Short Course di China, 2019.
Oleh : Sutopo, M.Pd.
“Carilah ilmu sampai ke negeri China” Hadis Rasulullah saw
ini selalu memberikan rasa penasaran bagi saya. Apa sebenarnya yang bisa saya
peroleh dengan belajar sampai ke negeri China. Hingga suatu siang di bulan
Februari, telepon selular saya berdering dengan panggilan nomor area Jakarta.
Ketika telah tersambung, ternyata suara wanita itu adalah salah satu staf di
Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Dasar Kemdikbud. Beliau secara khusus
mengabarkan bahwa saya adalah salah satu guru yang akan diberi kesempatan
mengikuti short course di Provinsi Jiangsu China pada bulan Maret 2019.

Rasa hati diliputi rasa syukur mendengar kabar itu,
mengingat beberapa waktu yang lalu telah dirilis nama-nama guru yang mendapat
kesempatan short course di China, Belanda, dan Australia, tetapi nama saya tak
tertera di situ. Saya pun menerima dengan penuh introspeksi karena saya
hanyalah Juara III dalam Lomba Inovasi Pembelajaran tingkat nasional yang
diselenggarakan Direktorat Pembinaan Guru Dikdas Kemdikbud tahun 2018. Antara
keinginan dan kenyataan memang tak selalu sama. Namun, ketika Allah swt
membukakan jalan, kesempatan itu pun ada dalam genggaman.
Adiminstrasi kepergian ke luar negeri telah siap disertai
bekal untuk tinggal selama 21 hari di daratan China pun telah tertata. Tanggal
27 Februari 2019 saya berangkat mengikuti kegiatan pembekalan (pre departure)
di Jakarta. Hari Minggu tanggal 3 Maret 2019 pukul 20.00 saya beserta seluruh
peserta sebanyak 50 orang telah tiba di Kampus CUMT (China University of
Minning and Technology) yang terletak di Provinsi Jiangsu China. Kedatangan
kami di China disambut musim dingin dengan rentang cuaca antara 8 – 10o C.
Sungguh sensasi tersendiri bagi saya mengingat selama ini saya tinggal di
kawasan pantura Jawa dengan suhu yang panas.
Melihat jadwal kegiatan yang padat selama 21 hari di kampus
spesialis ilmu pertambangan itu, sempat terlintas rasa enggan di hati saya.
Namun, setelah melihat semangat teman-teman yang memang jauh lebih muda usia
dibandingkan saya, semangat itu pun hadir. Berjalan menuruni setiap lorong
kampus yang berbukit dengan rasa lega saya lakukan tiap pagi. Naik turun bus
kampus demi menerima materi dari narasumber di kampus lain pun dengan santai
saya ikuti. Tinggal dua kendala yang sulit saya atasi, yaitu bahasa Mandarin
dan kuliner China yang adaptasinya terlalu lambat bagi saya.
Hampir semua materi disampaikan oleh narasumber dengan
bahasa China kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh tim
translater. Meskipun saya sempat mendapat bekal pengantar bahasa China selama
dua pertemuan, tetap saja susah bagi orang setua saya untuk menyerapnya kecuali
pada salam-salam harian saja. Kuliner harian di dormitory, tempat saya dan
teman-teman tinggal di kampus, disuguhkan dengan kekhasan bumbu China. Menu
pagi, siang, dan malam yang hampir mirip rasa dan aromanya itu sempat mematikan
selera makan saya. Telur rebus, bakpao, dan sup harus jadi santapan harian saya
kecuali hari Sabtu dan Minggu. Akhir pekan tidak ada kegiatan di kampus. Pada hari
itulah kami dapat menikmati kuliner Arab di kantin muslim bersama para
mahasiswa di kampus.
Kunjungan ke sekolah mitra CUMT
Dua fokus utama yang harus saya serap dari pelatihan singkat
tersebut adalah implementasi tentang HOTS (High Order Thinking Skills) dan
STEAM (Science, Technology, Engineering, Art and Mathematics). Keduanya merupakan dua
pendekatan pembelajaran yang sedang digalakkan di Indonesia menyongsong
pembelajaran abad ke-21 dan revolusi industri 4.0. Beberapa sekolah di luar
negeri termasuk di China sudah lama menerapkan kedua pendekatan tersebut dalam
pembelajarannya.
Pendekatan STEAM untuk pembelajaran di sekolah-sekolah di
Jiangsu lebih kental saya lihat mengingat beberapa perguruan tinggi vokasional
menancapkan kukunya dalam-dalam di provinsi ini. Visi mereka tentang teknologi
mampu menjadikan China cukup berdaulat di bidang industri. Mereka bersemboyan
barang apa pun yang dibuat oleh negara lain harus mampu mereka imitasikan
kemudian dikembangkan menjadi lebih baik dari negara lain. Visi ini harus
didukung dengan sekolah vokasional yang eksis dan perguruan tinggi vokasional
yang modern.
Saya dan tim yang berada di CUMT berkesempatan mengunjungi
beberapa sekolah binaan kampus CUMT untuk menerima persentasi tentang seluk
beluk sekolah dan mengobservasi lingkungan sekolah dengan berbagai fasilitas
yang dimilikinya. Secara fisik keunggulan sekolah di China adalah luasan
wilayah sekolah yang ideal. Dengan luas sekolah yang memadai itu membuat siswa
memiliki dinamika fisik untuk membuat mereka sosok yang lincah, gesit, dan
secara fisik sehat. Lapangan olahraga di sebuah sekolah setingkat SMA yang kami
kunjungi bahkan mirip stadion atletik di Indonesia. Pembandingan ini bermaksud
untuk meluaskan cara pikir kita yang kadang menempatkan sekolah sebagai bentuk
ruang dan kelas yang bertumpuk tanpa memikirkan keberadaan lingkungan sebagai
sarana literasi gerak yang penting.
Salah satu sekolah yang saya kunjungi, Peidong Experimental
School of Jiangsu, memiliki empat prioritas yang menurut saya istimewa. Keempat
prioritas tersebut adalah (1) kesehatan, (2) perilaku yang baik, (3) prestasi
akademik, dan (4) wawasan yang luas. Program unggulan ini menempatkan prestasi
akademik pada urutan capaian ketiga, dan menempatkan kesehatan dan perilaku
baik sebagai prioritas pertama dan kedua. Jika dikaitkan dengan pengembangan
karakter yang ada dalam pendidikan di Indonesia ini ternyata pantas
direferensikan, yaitu menempatkan kesehatan dan perilaku baik di atas capaian
akademik.

Dalam sebuah seminar di salah satu perguruan tinggi di
Jiangshu, Mr. Yuan Jingyu, Ph.D. Deputy Director of Education Department of
Jiangsu Provincial Government, mengungkapkan satu hal yang saya anggap sangat
baru. Hal itu adalah yang dia sebut dengan pembelajaran yang membahagiakan.
Selama ini saya baru mengenal enjoy full leraning, yaitu menjadikan kegiatan
pembelajaran sebagai kegiatan yang membuat siswa senang dan tidak merasa
terkekang. Dengan rasa senang siswa pasti berangkat ke sekolah dengan antusias
dan jauh dari rasa malas. Apa yang diungkapkan oleh Doktor Jingyu tersebut
lebih dari sekedar pembelajaran yang menyenangkan, tetapi membahagiakan.
Bahagia adalah idola siapa pun di dunia ini. Jika
pembelajaran dapat diskenariokan menjadi kegiatan yang membahagiakan tentu
setiap siswa akan mendambakan pendidikan. Di sekolah siswa akan merasa
mendapatkan kebahagiaan bersama guru, teman sebaya, dan proses pembelajaran.
Jika bahagia itu didefinisikan tercukupinya kebutuhan dan terpenuhinya rasa
damai dan aman, sekolah semestinya mengupayakan setiap siswa dapat
mendapatkannya di sekolah.
Selembar kertas yang bertuliskan Certificate di samping ini
tak memiliki makna apa pun tanpa aksi nyata dalam rangka mencerdaskan bangsa.
Berinovasi tanpa henti lebih baik daripada mengubur mimpi karena silau melihat
yang lain sudah berlari. Membuat kita sejajar di samping mereka atau selangkah
mendahulunya harus selalu menjadi tekad seluruh putera bangsa. Tumbuhkan rasa
percaya diri untuk hari ini, esok hari, dan yakini bahwa Indonesia adalah
pertiwi dengan jutaan potensi. Indonesia Jaya.