Kamis, 06 Agustus 2026

Mengintai Geliat Pendidikan di Negeri Tirai Bambu

Guru SMP Negeri 2 Demak, Peserta Short Course di China, 2019.

Oleh : Sutopo, M.Pd.

“Carilah ilmu sampai ke negeri China” Hadis Rasulullah saw ini selalu memberikan rasa penasaran bagi saya. Apa sebenarnya yang bisa saya peroleh dengan belajar sampai ke negeri China. Hingga suatu siang di bulan Februari, telepon selular saya berdering dengan panggilan nomor area Jakarta. Ketika telah tersambung, ternyata suara wanita itu adalah salah satu staf di Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Dasar Kemdikbud. Beliau secara khusus mengabarkan bahwa saya adalah salah satu guru yang akan diberi kesempatan mengikuti short course di Provinsi Jiangsu China pada bulan Maret 2019.

Rasa hati diliputi rasa syukur mendengar kabar itu, mengingat beberapa waktu yang lalu telah dirilis nama-nama guru yang mendapat kesempatan short course di China, Belanda, dan Australia, tetapi nama saya tak tertera di situ. Saya pun menerima dengan penuh introspeksi karena saya hanyalah Juara III dalam Lomba Inovasi Pembelajaran tingkat nasional yang diselenggarakan Direktorat Pembinaan Guru Dikdas Kemdikbud tahun 2018. Antara keinginan dan kenyataan memang tak selalu sama. Namun, ketika Allah swt membukakan jalan, kesempatan itu pun ada dalam genggaman.

Adiminstrasi kepergian ke luar negeri telah siap disertai bekal untuk tinggal selama 21 hari di daratan China pun telah tertata. Tanggal 27 Februari 2019 saya berangkat mengikuti kegiatan pembekalan (pre departure) di Jakarta. Hari Minggu tanggal 3 Maret 2019 pukul 20.00 saya beserta seluruh peserta sebanyak 50 orang telah tiba di Kampus CUMT (China University of Minning and Technology) yang terletak di Provinsi Jiangsu China. Kedatangan kami di China disambut musim dingin dengan rentang cuaca antara 8 – 10o C. Sungguh sensasi tersendiri bagi saya mengingat selama ini saya tinggal di kawasan pantura Jawa dengan suhu yang panas.

Melihat jadwal kegiatan yang padat selama 21 hari di kampus spesialis ilmu pertambangan itu, sempat terlintas rasa enggan di hati saya. Namun, setelah melihat semangat teman-teman yang memang jauh lebih muda usia dibandingkan saya, semangat itu pun hadir. Berjalan menuruni setiap lorong kampus yang berbukit dengan rasa lega saya lakukan tiap pagi. Naik turun bus kampus demi menerima materi dari narasumber di kampus lain pun dengan santai saya ikuti. Tinggal dua kendala yang sulit saya atasi, yaitu bahasa Mandarin dan kuliner China yang adaptasinya terlalu lambat bagi saya.

Hampir semua materi disampaikan oleh narasumber dengan bahasa China kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh tim translater. Meskipun saya sempat mendapat bekal pengantar bahasa China selama dua pertemuan, tetap saja susah bagi orang setua saya untuk menyerapnya kecuali pada salam-salam harian saja. Kuliner harian di dormitory, tempat saya dan teman-teman tinggal di kampus, disuguhkan dengan kekhasan bumbu China. Menu pagi, siang, dan malam yang hampir mirip rasa dan aromanya itu sempat mematikan selera makan saya. Telur rebus, bakpao, dan sup harus jadi santapan harian saya kecuali hari Sabtu dan Minggu. Akhir pekan tidak ada kegiatan di kampus. Pada hari itulah kami dapat menikmati kuliner Arab di kantin muslim bersama para mahasiswa di kampus.

Kunjungan ke sekolah mitra CUMT

Dua fokus utama yang harus saya serap dari pelatihan singkat tersebut adalah implementasi tentang HOTS (Higher Order Thingking Skills) dan STEAM (Since Technology Engineering and Mathematics). Keduanya merupakan dua pendekatan pembelajaran yang sedang digalakkan di Indonesia menyongsong pembelajaran abad ke-21 dan revolusi industri 4.0. Beberapa sekolah di luar negeri termasuk di China sudah lama menerapkan kedua pendekatan tersebut dalam pembelajarannya.

Pendekatan STEAM untuk pembelajaran di sekolah-sekolah di Jiangsu lebih kental saya lihat mengingat beberapa perguruan tinggi vokasional menancapkan kukunya dalam-dalam di provinsi ini. Visi mereka tentang teknologi mampu menjadikan China cukup berdaulat di bidang industri. Mereka bersemboyan barang apa pun yang dibuat oleh negara lain harus mampu mereka imitasikan kemudian dikembangkan menjadi lebih baik dari negara lain. Visi ini harus didukung dengan sekolah vokasional yang eksis dan perguruan tinggi vokasional yang modern.

Saya dan tim yang berada di CUMT berkesempatan mengunjungi beberapa sekolah binaan kampus CUMT untuk menerima persentasi tentang seluk beluk sekolah dan mengobservasi lingkungan sekolah dengan berbagai fasilitas yang dimilikinya. Secara fisik keunggulan sekolah di China adalah luasan wilayah sekolah yang ideal. Dengan luas sekolah yang memadai itu membuat siswa memiliki dinamika fisik untuk membuat mereka sosok yang lincah, gesit, dan secara fisik sehat. Lapangan olahraga di sebuah sekolah setingkat SMA yang kami kunjungi bahkan mirip stadion atletik di Indonesia. Pembandingan ini bermaksud untuk meluaskan cara pikir kita yang kadang menempatkan sekolah sebagai bentuk ruang dan kelas yang bertumpuk tanpa memikirkan keberadaan lingkungan sebagai sarana literasi gerak yang penting.

Salah satu sekolah yang saya kunjungi, Peidong Experimental School of Jiangsu, memiliki empat prioritas yang menurut saya istimewa. Keempat prioritas tersebut adalah (1) kesehatan, (2) perilaku yang baik, (3) prestasi akademik, dan (4) wawasan yang luas. Program unggulan ini menempatkan prestasi akademik pada urutan capaian ketiga, dan menempatkan kesehatan dan perilaku baik sebagai prioritas pertama dan kedua. Jika dikaitkan dengan pengembangan karakter yang ada dalam pendidikan di Indonesia ini ternyata pantas direferensikan, yaitu menempatkan kesehatan dan perilaku baik di atas capaian akademik.

Dalam sebuah seminar di salah satu perguruan tinggi di Jiangshu, Mr. Yuan Jingyu, Ph.D. Deputy Director of Education Department of Jiangsu Provincial Government, mengungkapkan satu hal yang saya anggap sangat baru. Hal itu adalah yang dia sebut dengan pembelajaran yang membahagiakan. Selama ini saya baru mengenal enjoy full leraning, yaitu menjadikan kegiatan pembelajaran sebagai kegiatan yang membuat siswa senang dan tidak merasa terkekang. Dengan rasa senang siswa pasti berangkat ke sekolah dengan antusias dan jauh dari rasa malas. Apa yang diungkapkan oleh Doktor Jingyu tersebut lebih dari sekedar pembelajaran yang menyenangkan, tetapi membahagiakan.

Bahagia adalah idola siapa pun di dunia ini. Jika pembelajaran dapat diskenariokan menjadi kegiatan yang membahagiakan tentu setiap siswa akan mendambakan pendidikan. Di sekolah siswa akan merasa mendapatkan kebahagiaan bersama guru, teman sebaya, dan proses pembelajaran. Jika bahagia itu didefinisikan tercukupinya kebutuhan dan terpenuhinya rasa damai dan aman, sekolah semestinya mengupayakan setiap siswa dapat mendapatkannya di sekolah.

Selembar kertas yang bertuliskan Certificate di samping ini tak memiliki makna apa pun tanpa aksi nyata dalam rangka mencerdaskan bangsa. Berinovasi tanpa henti lebih baik daripada mengubur mimpi karena silau melihat yang lain sudah berlari. Membuat kita sejajar di samping mereka atau selangkah mendahulunya harus selalu menjadi tekad seluruh putera bangsa. Tumbuhkan rasa percaya diri untuk hari ini, esok hari, dan yakini bahwa Indonesia adalah pertiwi dengan jutaan potensi. Indonesia Jaya.

0 komentar:

Posting Komentar